MAKALAH
EVALUASI PEMBELAJARAN
“RANAH KOGNITIF, AFEKTIF, PSIKOMOTOR,
KETERAMPILAN PROSES SAINS, KETERAMPILAN BERFIKIR GENERIK SAINS DAN BERFIKIR
KRITIS”
DI SUSUN OLEH :
1.
Yumi
Zumratul Bahri :
151 139 258
2.
Lailatul
Apriana :151 139 261
3.
Zaitun :151
139 282
4.
Sri Astuti
:151 139 276
5.
Jumain
:151 139 281
6.
Haryati
Indrasari
:151 139 265
7.
Alfandi
:151 139 289
JURUSAN : PGMI
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
MATARAM
TA. 2014/2015
KATA PENGANTAR
Puja dan Puji syukur kita panjatkan
kehadirat allah swt, yang telah memberikan kesempatan dan petunjuk bagi penulis
sehingga mkalah yang berjudul Ranah
Kognitif, Afektif, Psikomotor, Keterampilan Proses Sains, Keterampilan Berfikir
Generik Sains Dan Berfikir Kritis bisa terselesaikan dengan sempurna.
Dan penulis beranggapan bahwa makalah
ini sangat diperlukan oleh pendidik atau guru di madrasah, hususnya guru SD/MI.
karena dengan kehadiran atau di terbitkanyya makalah ini akan membantu guru
untuk bagaimana melakukan evaluasi atau penilaian terhadap peserta didik di
sekolah, baik yang menyangkut kognitif, afektif, psikomotor dan lainya.
Mataram,
11 April 2015
Penulis
DAFTAR ISI
COVER................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR............................................................................................ ii
DAFTAR ISI.......................................................................................................... iii
BAB I : PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang................................................................................................ 1
B.
Rumusan
Maslah............................................................................................. 2
C.
Tujuan.............................................................................................................. 2
BAB II : PEMBAHASAN
A. Ranah Penilaian Kognitif............................................................................... 3
B. Ranah Penilaian Afektif................................................................................. 6
C. Ranah Penilaian Psikomotorik....................................................................... 10
D. Keterampilan Proses Sains ....................................................... 11
E. Keterampilan Generik Sains...................................................... 12
F. Keterampilan Berpikir Kritis......................................................................... 14
BAB II : PENUTUP
A.
Kesimpulan...................................................................................................... 16
B.
Saran................................................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penilaian yang dilakukan oleh pendidik di
madrasah atau disekolah sering kali tidak sesuai dengan realita yang ada. Peserta didik yang kognitifnya tinggi bisa jadi
mendapatkan nilai yang rendah oleh gurunya, dan peserta didik yang kognitifnya
rendah bisa jadi dikasih nilai yang tinggi oleh guru atau pendidik.
Ranah
kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom,
segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah
kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi.
Ranah
afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya
bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri
hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah
laku.
Ranah
psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau
kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik.
Pembelajaran
sains adalah pembelajaran dimana siswa tidak hanya dituntut untuk lebih banyak
mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip sains secara verbalistis, hafalan,
pengenalan rumus-rumus, dan pengenalan istilah-istilah melalui serangkaian
latihan secara verbal, namun hendaknya dalam pembelajaran sains, guru lebih
banyak memberikan pengalaman kepada siswa untuk lebih mengerti dan membimbing
siswa agar dapat menggunakan pengetahuannya dalam kehidupan sehari-hari.
B. Rumusan Masalah
1.
Apakah yang dimaksud dengan
ranah penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik ?
2.
Bagaimanakah bentuk-bentuk keterampilan proses sains, keterampilan
berfikir generik sains dan berfikir kritis ?
C. Tujuan
1.
Menjelaskan maksud dari
ranah penilaian kognitif, afektif dan psikomotorik.
2.
Menguraikan bentuk-bentuk keterampilan proses sains, keterampilan
berfikir generik sains dan berfikir kritis.
BAB II
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
A. Ranah
Penilaian Kognitif
1.
Pengertian
Ranah Penilaian Kognitif
Ranah
kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom,
segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah
kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk
didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis,
mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam
aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan
jenjang yang paling tinggi. Keenam tingkatan tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Pengetahuan/hafalan/ingatan
(knowledge)
Adalah kemampuan seseorang untuk
mengingat-ingat kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama,
istilah, ide, rumus-rumus, dan sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk
menggunkannya. Pengetahuan atau ingatan adalah merupakan proses berfikir yang
paling rendah. Salah satu contoh hasil belajar kognitif pada jenjang
pengetahuan adalah dapat menghafal surat al-‘Ashar, menerjemahkan dan
menuliskannya secara baik dan benar, sebagai salah satu materi pelajaran
kedisiplinan yang diberikan oleh guru Pendidikan Agama Islam di sekolah.
b.
Pemahaman (comprehension)
Adalah kemampuan seseorang untuk mengerti atau
memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain,
memahami adalah mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai
segi. Seseorang peserta didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat
memberikan penjelasan atau memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu
dengan menggunakan kata-katanya sendiri. Pemahaman merupakan jenjang kemampuan
berfikir yang setingkat lebih tinggi dari ingatan atau hafalan. Salah satu
contoh hasil belajar ranah kognitif pada jenjang pemahaman ini misalnya:
Peserta didik atas pertanyaan Guru Pendidikan Agama Islam dapat menguraikan
tentang makna kedisiplinan yang terkandung dalam surat al-‘Ashar secara lancar
dan jelas.
c.
Penerapan (application)
Adalah kesanggupan seseorang untuk menerapkan
atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode,
prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dan sebagainya, dalam situasi yang
baru dan kongkret. Penerapan ini adalah merupakan proses berfikir setingkat
lebih tinggi ketimbang pemahaman. Salah satu contoh hasil belajar kognitif
jenjang penerapan misalnya: Peserta didik mampu memikirkan tentang penerapan
konsep kedisiplinan yang diajarkan Islam dalam kehidupan sehari-hari baik
dilingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat.
d.
Analisis (analysis)
Adalah kemampuan seseorang untuk merinci atau
menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian-bagian yang lebih kecil dan
mampu memahami hubungan di antara bagian-bagian atau faktor-faktor yang satu
dengan faktor-faktor lainnya. Jenjang analisis adalah setingkat lebih tinggi
ketimbang jenjang aplikasi. Contoh: Peserta didik dapat merenung dan memikirkan
dengan baik tentang wujud nyata dari kedisiplinan seorang siswa dirumah,
disekolah, dan dalam kehidupan sehari-hari di tengah-tengah masyarakat, sebagai
bagian dari ajaran Islam.
e.
Sintesis (syntesis)
Adalah kemampuan berfikir yang merupakan
kebalikan dari proses berfikir analisis. Sisntesis merupakan suatu proses yang
memadukan bagian-bagian atau unsur-unsur secara logis, sehingga menjelma
menjadi suatu pola yang yang berstruktur atau bebrbentuk pola baru. Jenjang
sintesis kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada jenjang analisis. Salah
satu jasil belajar kognitif dari jenjang sintesis ini adalah: peserta didik
dapat menulis karangan tentang pentingnya kedisiplinan sebagiamana telah
diajarkan oleh islam.
f.
Penilaian/penghargaan/evaluasi
(evaluation)
Adalah merupakan jenjang berpikir paling
tinggi dalam ranah kognitif dalam taksonomi Bloom. Penilian/evaluasi disini
merupakan kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu
kondisi, nilai atau ide, misalkan jika seseorang dihadapkan pada beberapa
pilihan maka ia akan mampu memilih satu pilihan yang terbaik sesuai dengan
patokan-patokan atau kriteria yang ada. Salah satu contoh hasil belajar
kognitif jenjang evaluasi adalah: peserta didik mampu menimbang-nimbang tentang
manfaat yang dapat dipetik oleh seseorang yang berlaku disiplin dan dapat
menunjukkan mudharat atau akibat-akibat negatif yang akan menimpa seseorang
yang bersifat malas atau tidak disiplin, sehingga pada akhirnya sampai pada
kesimpulan penilaian, bahwa kwdisiplinan merupakan perintah Allah SWT yang waji
dilaksanakan dalam sehari-hari.
2.
Contoh
Pengukuran Ranah Penilaian Kognitif
Apabila
melihat kenyataan yang ada dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan, pada
umumnya baru menerapkan beberapa aspek kognitif tingkat rendah, seperti
pengetahuan, pemahaman dan sedikit penerapan. Sedangkan tingkat analisis,
sintesis dan evaluasi jarang sekali diterapkan. Apabila semua tingkat kognitif
diterapkan secara merata dan terus-menerus maka hasil pendidikan akan lebih
baik. Pengukuran hasil belajar ranah kognitif dilakukan dengan tes tertulis.
Bentuk
tes kognitif diantaranya;
a.
tes atau pertanyaan lisan
di kelas, e. jawaban atau
isian singkat.
b.
menjodohkan. f.
pilihan ganda.
c.
Portopolio. g.
uraian obyektif.
d.
performans. h.
uraian non obyektif atau uraian bebas.
Cakupan
yang diukur dalam ranah Kognitif adalah:
a.
Ingatan yaitu
kemampuan seseorang untuk mengingat. Ditandai dengan kemampuan menyebutkan
simbol, istilah, definisi, fakta, aturan, urutan, metode.
b.
Pemahaman yaitu kemampuan
seseorang untuk memahami tentang sesuatu hal. Ditandai dengan kemampuan
menerjemahkan, menafsirkan, memperkirakan, menentukan, menginterprestasikan.
c.
Penerapan yaitu kemampuan
berpikir untuk menjaring & menerapkan dengan tepat tentang teori, prinsip,
simbol pada situasi baru/nyata. Ditandai dengan kemampuan menghubungkan,
memilih, mengorganisasikan, memindahkan, menyusun, menggunakan, menerapkan, mengklasifikasikan,
mengubah struktur.
d.
Analisis yaitu: Kemampuan
berfikir secara logis dalam meninjau suatu fakta/ objek menjadi
lebih rinci. Ditandai dengan kemampuan membandingkan, menganalisis,
menemukan, mengalokasikan, membedakan, mengkategorikan.
e.
Sintesis yaitu: Kemampuan
berpikir untuk memadukan konsep-konsep secara logis sehingga menjadi suatu pola
yang baru. Ditandai dengan kemampuan mensintesiskan, menyimpulkan,
menghasilkan, mengembangkan, menghubungkan, mengkhususkan.
f.
Evaluasi yaitu: Kemampuan
berpikir untuk dapat memberikan pertimbangan terhadap sustu situasi, sistem
nilai, metoda, persoalan dan pemecahannya dengan menggunakan tolak ukur
tertentu sebagai patokan. Ditandai dengan kemampuan menilai, menafsirkan,
mempertimbangkan dan menentukan.
B. Ranah
Penilaian Afektif
1.
Pengertian Ranah
Penilaian Afektif
Ranah
afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif
mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai.
Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya
bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri
hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah
laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam,
kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya
yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di
terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam
dan sebagainya.
Ranah
afektif menjadi lebih rinci lagi ke dalam lima jenjang, yaitu:
a.
Menerima
atau Memperhatikan
Adalah
kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan (stimulus) dari luar yang datang
kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-lain. Termasuk
dalam jenjang ini misalnya adalah: kesadaran dan keinginan untuk menerima
stimulus, mengontrol dan menyeleksi gejala-gejala atau rangsangan yang datang
dari luar. Menerima atau memperhatikan
juga sering di beri pengertian sebagai kemauan untuk memperhatikan suatu
kegiatan atau suatu objek. Pada jenjang ini peserta didik dibina agar mereka
bersedia menerima nilai atau nilai-nilai yang di ajarkan kepada mereka, dan
mereka mau menggabungkan diri kedalam nilai itu atau meng-identifikasikan diri
dengan nilai itu. Contah hasil belajar afektif jenjang menerima, misalnya:
peserta didik bahwa disiplin wajib di tegakkan, sifat malas dan tidak di siplin
harus disingkirkan jauh-jauh.
b.
Menanggapi
Mengandung
arti “adanya partisipasi aktif”. Jadi kemampuan menanggapi adalah kemampuan
yang dimiliki oleh seseorang untuk mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam
fenomena tertentu dan membuat reaksi terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini
lebih tinggi daripada jenjang receiving. Contoh hasil belajar ranah afektif
responding adalah peserta didik tumbuh hasratnya untuk mempelajarinya lebih
jauh atau menggali lebih dalam lagi, ajaran-ajaran Islam tentang kedisiplinan.
c.
Menilai atau Menghargai
Menilai atau menghargai artinya mem-berikan
nilai atau memberikan penghargaan terhadap suatu kegiatan atau obyek, sehingga
apabila kegiatan itu tidak dikerjakan, dirasakan akan membawa kerugian atau
penyesalan. Menilai merupakan tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada
receiving dan responding. Dalam kaitan dalam proses belajar mengajar, peserta
didik disini tidak hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah
berkemampuan untuk menilai konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk.
Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka nilai dan mampu untuk mengatakan “itu
adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik telah menjalani proses
penilaian. Nilai itu mulai di camkan (internalized) dalam dirinya.
Dengan demikian nilai tersebut telah stabil dalam peserta didik. Contoh hasil
belajar efektif jenjang valuing adalah tumbuhnya kemampuan yang kuat pada diri
peseta didik untuk berlaku disiplin, baik disekolah, dirumah maupun di
tengah-tengah kehidupan masyarakat.
d.
Mengatur atau
Mengorganisasikan
Artinya
memper-temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang
membawa pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan
pengembangan dari nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya
hubungan satu nilai denagan nilai lain., pemantapan dan perioritas nilai
yang telah dimilikinya. Contoh nilai efektif jenjang organization adalah
peserta didik mendukung penegakan disiplin nasional yang telah dicanangkan oleh
bapak presiden Soeharto pada peringatan hari kemerdekaan nasional tahun 19
e.
Karakterisasi Dengan
Suatu Nilai atau Komplek Nilai
Yakni
keterpaduan semua sistem nilai yang telah dimiliki oleh seseorang, yang
mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah lakunya. Disini proses internalisasi
nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki nilai. Nilai itu
telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi emosinya.
Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta
didik telah benar-benar bijaksana. Ia telah memiliki phyloshopphy of life yang
mapan. Jadi pada jenjang ini peserta didik telah memiliki sistem nilai yang
telah mengontrol tingkah lakunya untuk suatu waktu yang lama, sehingga membentu
karakteristik “pola hidup” tingkah lakunya menetap, konsisten dan dapat
diramalkan. Contoh hasil belajar afektif pada jenjang ini adalah siswa telah memiliki
kebulatan sikap wujudnya peserta didik menjadikan perintah Allah SWT yang
tertera di Al-Quran menyangkut disiplinan, baik kedisiplinan sekolah, dirumah
maupun ditengah-tengan kehidupan masyarakat.
Ada
5 tipe karakteristik afektif yang penting berdasarkan tujuannya, yaitu sikap,
minat, konsep diri, nilai, dan moral.
a.
Sikap
Sikap
merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka
terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan
sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi
verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang
ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu.
b.
Minat
Minat
atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal
penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk
karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
c.
Konsep Diri
Menurut
Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan
dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada
dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang
tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau
negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu
mulai dari rendah sampai tinggi.
d.
Nilai
Nilai
menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan,
atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya
dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar
objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan
e.
Moral
Moral
berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau
perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang
lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis.
Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan
akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip,
nilai, dan keyakinan seseorang.
2.
Contoh
Pengukuran Ranah Penilaian Afektif
Kompetensi
siswa dalam ranah afektif yang perlu dinilai utamanya menyangkut sikap dan
minat siswa dalam belajar. Secara teknis penilaian ranah afektif dilakukan
melalui dua hal yaitu: a) laporan diri oleh siswa yang biasanya dilakukan
dengan pengisian angket anonim, b) pengamatan sistematis oleh guru terhadap
afektif siswa dan perlu lembar pengamatan.
Ranah
afektif tidak dapat diukur seperti halnya ranah kognitif, karena dalam ranah
afektif kemampuan yang diukur adalah:
a.
Menerima (memperhatikan),
meliputi kepekaan terhadap kondisi, gejala, kesadaran, kerelaan,
mengarahkan perhatian
b.
Merespon, meliputi
merespon secara diam-diam, bersedia merespon, merasa puas
dalam merespon, mematuhi peraturan
c.
Menghargai, meliputi
menerima suatu nilai, mengutamakan suatu nilai, komitmen terhadap nilai
d.
Mengorganisasi, meliputi
mengkonseptualisasikan nilai, memahami hubungan abstrak, mengorganisasi sistem
suatu nilai
C. Ranah
Penilaian Psikomotorik
1.
Pengertian
Ranah Penilaian Psikomotor
Ranah psikomotor merupakan ranah yang
berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang
menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang
berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari,
memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh
Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam
bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar
psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif
(memahami sesuatu) dan dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk
kecenderungan-kecenderungan berperilaku).
2.
Contoh
Pengukuran Ranah Penilaian Psikomotor
Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara
menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (1980) menjelaskan bahwa hasil belajar
keterampilan dapat diukur melalui:
a.
pengamatan langsung dan
penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik
berlangsung,
b.
sesudah mengikuti
pembelajaran, yaitu dengan jalan memberikan tes kepada peserta didik untuk
mengukur pengetahuan, keterampilan, dan sikap
c.
beberapa waktu sesudah
pembelajaran selesai dan kelak dalam lingkungan kerjanya.
Sementara itu Leighbody (1968) berpendapat
bahwa penilaian hasil belajar psikomotor mencakup:
a.
kemampuan menggunakan alat
dan sikap kerja.
b.
kemampuan menganalisis
suatu pekerjaan dan menyusun urut-urutan pengerjaan.
c.
kecepatan mengerjakan
tugas.
d.
kemampuan membaca gambar
dan atau symbol.
e.
keserasian bentuk dengan
yang diharapkan dan atau ukuran yang telah ditentukan.
Dari penjelasan di atas dapat dirangkum bahwa
dalam penilaian hasil belajar psikomotor atau keterampilan harus mencakup
persiapan, proses, dan produk. Penilaian dapat dilakukan pada saat proses
berlangsung yaitu pada waktu peserta didik melakukan praktik, atau sesudah
proses berlangsung dengan cara mengetes peserta didik.
Tes untuk mengukur ranah psikomotorik adalah
tes untuk mengukur penampilan atau kinerja (performance) yang telah
dikuasai oleh peserta didik. Tes tersebut dapat berupa tes paper
and pencil, tes identifikasi, tes simulasi, dan tes unjuk kerja.
a.
Tes simulasi
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui
tes ini, jika tidak ada alat yang sesungguhnya yang dapat dipakai untuk
memperagakan penampilan peserta didik, sehingga peserta didik dapat
dinilai tentang penguasaan keterampilan dengan bantuan peralatan tiruan atau
berperaga seolah-olah menggunakan suatu alat yang sebenarnya.
b.
Tes unjuk kerja (work
sample)
Kegiatan psikomotorik yang dilakukan melalui
tes ini, dilakukan dengan sesungguhnya dan tujuannya untuk mengetahui
apakah peserta didik sudah menguasai/terampil menggunakan alat tersebut.
Misalnya dalam melakukan praktik pengaturan lalu lintas lalu lintas di lapangan
yang sebenarnya
Tes simulasi dan tes unjuk kerja, semuanya
dapat diperoleh dengan observasi langsung ketika peserta didik melakukan
kegiatan pembelajaran. Lembar observasi dapat menggunakan daftar
cek (check-list) ataupun skala penilaian (rating scale).
Psikomotorik yang diukur dapat menggunakan alat ukur berupa skala
penilaian terentang dari sangat baik, baik, kurang, kurang, dan tidak
baik.
Dengan kata lain, kegiatan belajar yang
banyak berhubungan dengan ranah psikomotor adalah praktik di aula/lapangan dan
praktikum di laboratorium. Dalam kegiatan-kegiatan praktik itu juga ada ranah
kognitif dan afektifnya, namun hanya sedikit bila dibandingkan dengan ranah
psikomotor. Pengukuran hasil belajar ranah psikomotor menggunakan tes unjuk
kerja atau lembar tugas.[1]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir,
termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis,
dan kemampuan mengevaluasi.
. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat
diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif
tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik
dalam berbagai tingkah laku.
Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan
keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima
pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan
dengan aktivitas fisik.
Pembelajaran sains adalah pembelajaran dimana siswa tidak
hanya dituntut untuk lebih banyak mempelajari konsep-konsep dan prinsip-prinsip
sains secara verbalistis, hafalan, pengenalan rumus-rumus, dan pengenalan
istilah-istilah melalui serangkaian latihan secara verbal, namun hendaknya
dalam pembelajaran sains, guru lebih banyak memberikan pengalaman kepada siswa
untuk lebih mengerti dan membimbing siswa agar dapat menggunakan pengetahuannya
dalam kehidupan sehari-hari.
B. Saran
Saran yang dapat kami sampaikan kepada kita
sebagai calon guru adalah agar lebih giat belajar dan mencari pengalaman yang
lebih luas guna untuk meningkatkan kualitas keilmuan kita sehingga nantinya
kita dapat menjalankan tugas kita sebagai mana mestinya yang pada akhirnya
diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik para
peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Anas
sudjiono. Pengantar Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: rajawali pers, 2009
Sri Wardani.Penilaian
Pembelajaran Matematika Berbasis Kompetensi. Yogyakarta: Departemen
Pendidikan Nasional
Tidak ada komentar:
Posting Komentar